Showing posts with label Budaya Batak. Show all posts
Showing posts with label Budaya Batak. Show all posts

19 April 2019

Begini Pembagian Harta Warisan Berdasarkan Adat Batak Toba



Pembagian Harta Waris Berdasarkan Adat Batak Toba



Masyarakat Batak yang menganut sistim kekeluargaan yang patrilineal yaitu garis keturunan ditarik dari ayah. Hal ini terlihat dari marga yang dipakai oleh orang Batak yang turun dari marga ayahnya. Melihat dari hal ini jugalah secara otomatis bahwa kedudukan kaum ayah atau laki-laki dalam masyarakat adat dapat dikatakan lebih tinggi dari kaum wanita. Namun bukan berarti kedudukan wanita lebih rendah.

Dalam pembagian warisan orang tua. Yang mendapatkan warisan adalah anak laki-laki sedangkan anak perempuan mendapatkan bagian dari orang tua suaminya atau dengan kata lain pihak perempuan mendapatkan warisan dengan cara hibah. Pembagian harta warisan untuk anak laki-laki juga tidak sembarangan, karena pembagian warisan tersebut ada kekhususan yaitu anak laki-laki yang paling kecil atau dalam bahasa batak nya disebut

Siapudan. Dan dia mendapatkan warisan yang khusus. Dalam sistem kekerabatan Batak Parmalim, pembagian harta warisan tertuju pada pihak perempuan. Ini terjadi karena berkaitan dengan system kekerabatan keluarga juga berdasarkan ikatan emosional kekeluargaan. Dan bukan berdasarkan perhitungan matematis dan proporsional, tetapi biasanya dikarenakan orang tua bersifat adil kepada anak-anak nya dalam pembagian harta warisan.

Dalam masyarakat Batak non-parmalim (yang sudah bercampur dengan budaya dari luar), hal itu juga dimungkinkan terjadi. Meskipun besaran harta warisan yang diberikan kepada anak perempuan sangat bergantung pada situasi, daerah, pelaku, doktrin agama dianut dalam keluarga serta kepentingan keluarga.

Apalagi ada sebagian orang yang lebih memilih untuk menggunakan hukum perdata dalam hal pembagian warisannya.
Hak anak tiri ataupun anak angkat dapat disamakan dengan hak anak kandung. Karena sebelum seorang anak diadopsi atau diangkat, harus melewati proses adat tertentu. Yang bertujuan bahwa orang tersebut sudah sah secara adat menjadi marga dari orang yang mengangkatnya.

Tetapi memang ada beberapa jenis harta yang tidak dapat diwariskan kepada anak tiri dan anak angkat yaitu Pusaka turun-temurun keluarga. Karena yang berhak memperoleh pusaka turun-temurun keluarga adalah keturunan asli dari orang yang mewariskan.

Dalam Ruhut-ruhut ni adat Batak (Peraturan Adat batak) jelas di sana diberikan pembagian warisan bagi perempuan yaitu, dalam hal pembagian harta warisan bahwa anak perempuan hanya memperoleh: Tanah (Hauma pauseang), Nasi Siang (Indahan Arian), warisan dari Kakek (Dondon Tua), tanah sekadar (Hauma Punsu Tali).

Dalam adat Batak yang masih terkesan Kuno, peraturan adat-istiadatnya lebih terkesan ketat dan lebih tegas, itu ditunjukkan dalam pewarisan, anak perempuan tidak mendapatkan apapun. Dan yang paling banyak dalam mendapat warisan adalah anak Bungsu atau disebut Siapudan.

Yaitu berupa Tanak Pusaka, Rumah Induk atau Rumah peninggalan orang tua dan harta yang lain nya dibagi rata oleh semua anak laki-laki nya. Anak siapudan juga tidak boleh untuk pergi meninggalkan kampung halaman nya, karena anak Siapudan tersebut sudah dianggap sebagai penerus ayahnya.

Jika kasusnya orang yang tidak memiliki anak laki-laki maka hartanya jatuh ke tangan saudara ayahnya. Sementara anak perempuannya tidak mendapatkan apapun dari harta orang
tuanya. Dalam hukum adatnya mengatur bahwa saudara ayah yang memperoleh warisan tersebut harus menafkahi segala kebutuhan anak perempuan dari si pewaris sampai mereka berkeluarga.

16 April 2019

Ulos Batak; 10 Makna Dan Tujuan Mangulosi Dalam Kegiatan Adat Batak

Makna Dan Tujuan Mangulosi Dalam Kegiatan Adat Batak


mangulosi dalam kegiatan adat batak

Penjelasan-penjelasan tentang kedudukan ulos dalam kegiatan resmi masyarakat Batak dan adat Batak dan gambaran tentang ulos dalam arti dan maknanya berdasarkan konteks sosio-historis masyarakat Batak. Sama halnya dengan tujuan ulos pada kegiatan resmi masyarakat Batak dan adat Batak adalah bagi kepentingan masyarakat Batak.

Untuk itu deskripsi berdasarkan penjelasan tentang konsep ulos menyatakan sebagai berikut.

1) Ulos memberi kehangatan dalam hubungan dengan sesama dan kerabat. Menurut pandangan orang Batak ada tiga unsur esensial untuk dapat hidup kepada manusia yaitu, darah (mudar), nyawa (hosa), kehangatan (halason). Darah dan nyawa merupakan proses alamiah, sehingga sudah bersatu dalam tubuh manusia. Tetapi kehangatan diperoleh melalui usaha manusia dalam hubungan dengan sesama, atau benda seperti ulos.

2) Ulos memberi panas bersifat menyenangkan. “Filsafat Batak tentang ulos berbunyi: Sibahen na las na so dung olo mohop, Sialo na ngali, sitenggang ombun manorop.”56 Itu berarti bahwa, ulos memberi panas sehingga enak, namun demikian yang tidak pernah membakar dan mengalahkan embun dingin merendah.

3) Ulos memberi kehangatan bagi tubuh dan jiwa (jiwa raga) sehingga mempunyai daya hidup.
Secara harfiah ulos dalam arti kain untuk menghangatkan badan. Kehangatan tubuh dengan menerima ulos dapat pula membuat kehangatan jiwa sehingga jiwa menjadi keras yaitu mempunyai daya hidup (tidak melempem). Itulah makna ulos mula-mula.

4) Ulos dengan makna harapan yang menggerakkan untuk bersemangat dalam kehidupan. “Ulos memiliki fungsi simbolik harapan sesuai dengan maknanya.

manortor mangulosi 

5) Ulos pengikat kasih sayang menurut derajat usia. “Filsafat Batak menyatakan, “Ijuk pangihot ni holong, ulos pangihot ni holong. Arti dari ijuk pengikat pelepah pada batang seperti ulos pengikat kasih sayang.

6) Ulos dalam makna kepercayaan kepada sumber spiritual bagi pengabadian siklus kehidupan manusia.

7) Ulos dalam makna menyelimuti jiwa atau memberi berjiwa kepada orang yang utama dan menjadi semangat. “Selimut jiwa atau roh (ulos ni tondi) merupakan salah satu sarana penyelamat. Dalam hal itu jiwa atau roh perlu diulosi. “Selama ulos berada pada si penerima, maka selama itu pula roh dan jiwa selalu terselimuti dan terlindungi. Menurut kepercayaan orang Batak pada zaman dahulu, jiwa (tondi) pun perlu diulosi. Jiwa (tondi) adalah roh orang itu sendiri sekaligus kekuatan. Jiwa (tondi) merupakan kekuatan memberi hidup kepada si penerima ulos.

8) Ulos mempunyai arti ulos ni tondi sebagai sarana penyelamat melalui penyerahan atau pemberian dalam upacara adat Batak. “Ulos mempunyai arti ulos ni tondi apabila penyerahan/pemberiannya melalui upacara adat, maka ulos bermakna adati bagi si penerima.

9) Ulos dalam makna pertalian keluarga. Ulos dan mangulosi orang menurut tali kekeluargaan berada dibawah kita. Sebagai contoh anak adalah dibawah bapak, adik dibawah kakak, boru dibawah hula-hula. Mangulosi orang di atas kita adalah pantang. Boru tidak boleh mangulosi hula-hula. Orang tua termasuk hula-hula mencintai anak. Karena itu ulos berarti simbol kasih sayang, dengan demikian itu hanya orang tua yang patut mangulosi anak.

pemakaian ulos dalam rangkaian acara mangulosi

10) Ulos dalam makna berkat (pasu-pasu) hula-hula kepada boru, seperti berkat Tuhan kepada manusia.
Memberi ulos selalu disertai dengan kata-kata berkat (pasu-pasu). Jika menyerahkan ulos dengan mimik sungguh-sungguh dan si penerima dapat menghayati, maka mungkin saja badan dan jiwa memperoleh kehangatan. Karena itu tidak bertentangan dengan agama bila disebut ulos ni badan dan ulos ni tondi. Sebab makna tondi di sini adalah kejiwaan (psychis).

Penjelasan menyeluruh dan terintegrasi tentang kejadian orang Batak dan ulos dalam pengertian-pengertian yang bersifat lokal dalam kebudayaan Batak yang bersumber dari daerah Tapanuli - Sumatera Utara.

Melalui daya cipta atau kecerdasan akal orang Batak membuat ulos yang berguna baik sebagai baju sehari-hari maupun maksud lainnya. Bahkan sebagai kain adat (ulos adat) dalam peristiwa kelahiran, perkawinan dan kematian dengan adat Batak, yang memiliki berbagai konsep makna. Juga hubungan antara ulos yang bersifat material dengan dalihan na tolu dan kegiatan resmi masyarakat Batak serta adat Batak dalam konsep makna yang bersifat formal sebagaimana berlaku pada peristiwa-peristiwa itu menurut Adat Batak.


T. M. Sihombing, Filsafat Batak tentang Kebiasaan-kebiasaan Adat Istiadat (Jakarta: Balai Pustaka, 1986)

Fungsi Ulos Dan Peranannya Dalam Adat Masyarakat Batak

ulos batak tumtuman 


Fungsi Ulos Bagi Masyarakat Batak


Deskripsi munculnya ulos berdasarkan konteks sosio-historis masyarakat Batak yang melahirkannya, maka ulos adalah bagian dari kehidupan orang Batak sejak dahulu. “Ulos adalah selembar kain tenunan khas Batak dengan pola dan ukuran tertentu di mana kedua ujungnya berjuntai panjang.

Kain ini awalnya berfungsi untuk melindungi tubuh dan selalu dikerjakan oleh perempuan dengan menggunakan kapas. Ulos adalah pakaian sehari-hari bagi laki-laki dan perempuan-perempuan Batak.

Perempuan Batak menggunakannya untuk menutup tubuh dari bagian dada sampai batas kaki dan bagi laki-laki Batak menggunakan untuk bagian pinggang sampai batas kaki. Cara membuat ulos adalah ditenun.

Dalam hal-hal tersebut maka ulos telah menunjukkan tanda lahiriah yang mudah dilihat dalam kehidupan orang Batak di tanah Batak.

Setelah wilayah Batak memiliki hubungan terbuka dan juga sangat intensif dengan bangsa Barat dan Timur dari luar daerah Tapanuli, maka hal ini mempengaruhi sikap dan cara berpikir orang Batak. “Menurut dokumen tua, orang Batak telah melakukan hubungan dagang dengan dunia luar sejak berabad-abad lampau.

Salah satu perubahan yang terjadi adalah bahwa tidak lagi digunakan ulos sebagai pakaian sehari-hari, melainkan “pakaian terbaru seperti celana panjang, kemeja, jas, gaun dan rok. Orang Batak menerima berbagai bentuk pakaian itu yang belum pernah ada (dilihat).

Dalam hal itu ada dua kategori pakaian yaitu pakaian tradisional yang bersifat lokal dari kebudayaan Batak dan pakaian modern yang ditandai oleh pola yang bersifat resmi. “Pakaian tradisional merupakan dasar pengertian orang Batak tentang kebutuhan dalam dunia sosial sendiri, sehingga mereka memakai ulos pakaian utama sebagai identifikasi sendiri dalam masyarakat Batak.”

Pakaian modern menunjukkan sikap dan cara berpikir serta cara bertindak sesuai dengan tuntutan zaman, sehingga juga berpengaruh pada pakaian di satu tempat. Hal itu menunjukkan modernisasi sebagai tanda perubahan zaman.

Akan tetapi kegunaan ulos kegiatan adat tidak berubah seperti ulos sebagai ulos adat, ulos modom dan ulos parompa. Khususnya “ulos adat” untuk ritual sebagai pemberian, yang disebut ulos marpandohan artinya yang “mengandung arti.”
Ulos adat untuk kegiatan resmi masyarakat Batak dan adat Batak masih sangat diperlukan sebagai pemberian dari super-ordinat kepada sub-ordinat menurut sistem kekerabatan Batak. Oleh karena itu ulos adat tetap bertahan di dalam dunia baru di mana orang Batak hidup.

fungsi ulos bagi masyarakat batak toba
ulos batak pucca bunga

Dari penjelasan-penjelasan tersebut di atas maka ada dua hal utama yaitu;

1) Ulos sebagai kain yang digunakan sebagai pakaian sehari-hari atau maksud lain dan tidak mempunyai peran penting dalam upacara adat.

2) Ulos sebagai kain adat (ulos adat) untuk kegiatan resmi masyarakat Batak dan upacara adat Batak, sehingga juga memiliki makna tersendiri.

Ulos dalam bahasa Batak artinya sama dengan kain, pada awalnya berfungsi untuk melindungi tubuh dan yang dikerjakan oleh perempuan-perempuan Batak dengan menggunakan kapas. Kemudian dan di masa kini adanya ulos yang digunakan untuk upacara adat Batak yang memiliki makna tersendiri.

Dengan fungsinya sebagai pemberian untuk upacara adat sehubungan dengan kelahiran, perkawinan dan kematian. Di samping itu juga ulos untuk beberapa upacara adat yang lainnya seperti saat penobatan kepala adat, atau penganugerahan gelar adat.

Dewasa ini penggunaan ulos telah berkembang, yang merupakan pengembangan karya budaya, sehingga kemudian timbul gagasan untuk memadukan ulos dengan kreativitas untuk mengolah ulos sebagai hiasan rumah seperti taplak meja, gorden, sebagai selendang perempuan, atau selendang anak-anak untuk menari, sarung, ikat kepala dan sebagainya.

Dengan demikian kain tenun ini tidak hanya memiliki peran sosial dan budaya, tetapi juga nilai ekonomi bagi masyarakatnya.



sumber;

Sandra A. Niessen, Batak Cloth and Clothing. A Dynamic Indonesia Tradition (New York: Oxford University Press, 1993)

Sugiarto Dakung, Ulos (Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1981/1982)

Asal Usul Yang Melatarbelakangi Kain Ulos Sebagai Ciri Khas Masyarakat Batak Toba

Asal Usul Kain Ulos Batak Toba


ulos batak toba

Ada banyak cerita tentang asal usul atau kejadian yang melatar belakangi kain ulos sebagai ciri khas masyarakat batak toba. Di antaranya menurut abstraksi berdasarkan literatur yang memuat asal mula tenun dan cara menenun dalam kebudayaan Batak, sehingga dapat diuraikan sebagai berikut.

Pertama, tentang asal mula pertenunan sebagai pekerjaan nenek moyang Batak


Konon si boru Deak Parujar, adalah seorang puteri bataraguru terus bertenun siang dan malam selama bertahun-tahun, pekerjaan tenunan tidak selesai. Hal ini ia lakukan untuk menghindari perkawinannya dengan si tuan ruma uhir, tuan ruma gorga, putera mangalabulan. Oleh karena itu mulajadi na bolon dan bataraguru menjadi sangat marah kepada si boru Deak Parujar, lalu merusak rumah tenunnya.

Penjelasan itu memberi gambaran pertenunan bersifat daya cipta untuk ulos dengan cara ditenun.

Kedua, asal mula pertenunan di awal peradaban orang Batak


ulos batak ragihotang

Hal itu adalah pekerjaan yang diberikan kepada nenek moyang orang Batak. Asal mula pertenunan yakni ketika si boru Sopak Panaluan menjelang remaja diberikan peralatan tenun oleh ayah si raja Purbalaning guru setia bulan. Ketika alat pertenunan diserahkan berkatalah si raja Purbalaning guru setia bulan kepada puterinya: Ima da inang boru Sopak Panaluan, nion ma ula-ula tinonun asa ho mulani partonunan. (Artinya, Anakku boru Sopak Panaluan, inilah alat-alat tenun, supaya kamu menjadi asal mula pertenunan).

Penjelasan itu memberi gambaran menenun merupakan bagian dari kebudayaan Batak sebagai mulanya.

Ketiga, asal mula ulos terkait dengan tenun menenun dalam awal paling purba dari budaya Batak


Si boru Daek Parujar, dewi pertenunan Batak meniti benang kapas pintalan tangan sendiri. Ia mampu bertahan ketika mara bahaya di lautan tak bersahabat nun di bawah dan menciptakan lingkungan pemukiman bangsa Batak di bumi. Dia, kapas dan pertenunan terkait dengan awal mula paling purba dari budaya Batak. Kapas dan sang dewi sendiri merupakan penengah antara dunia tengah dengan asal mula paling awal yakni dunia atas tempat para dewa.

Penjelasan ini memberi gambaran imajinasi mengenai seorang leluhur perempuan Batak berada di dua dunia sekaligus yaitu; dunia manusia dan dunia mitos. Dia mengejawantah dan mewakili asal mula spiritual dan asal mula fisik tenun-menenun ulos.

Deskrispi tentang kejadian ulos itu berkenaan dengan mitos, maka juga mengandung penafsiran tentang asal usul semesta alam, manusia dan suku bangsa Batak. Hal itu seolah-olah terungkap dengan cara gaib sebagaimana sifat dari mitos itu sendiri.

Namun demikian penafsiran terhadap ulos itu yang dipandang bersumber dari lingkungan lokal kebudayaan Batak, oleh karena itu dapat dilihat munculnya mengenai ciri ulos dengan cara ditenun oleh orang Batak. Dalam hal itu menenun ulos dengan peralatan dalam latar kebudayaan Batak. Oleh karena itu ulos adalah selembar kain tenunan, yang sangat mungkin telah ada sejak dahulu dalam kehidupan orang Batak. Di samping itu istilah yang tersedia dalam bahasa Batak pada ulos itu mengandung makna kata tentang tenun-menenun. "Ulos itu sama tuanya dengan peradaban Batak itu sendiri, sehingga ia menyertai kehidupan orang Batak."


Sumber: Sandra Niessen, Rangsa Ni Tonun;Sebuah Naskah tentang Tenun-menenun (Belanda Oosterbeek: Bergoord Publishing, 2013)

01 March 2019

Ternyata Inilah Sejarah Marga Marga suku Batak

rumah adat suku batak toba


Tanpa bermaksud SARA tapi cuma sekedar ingin berbagi, ternyata marga-marga kita orang batak itu ada sejarahnya. Tidak usah terlalu serius ya hehe...


Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang pendekar wanita, Butet namanya. Sebelum lulus dari Pandapotan silat, ia harus menempuh ujian Nasution. Agar bisa berkonsentrasi, dia memutuskan untuk menyepi ke gunung dan berlatih.

Saat di perjalanan, Butet merasa lapar sehingga memutuskan untuk mampir di Pasaribu setempat. Beberapa pemuda tanggung yang lagi nonton sabung ayam sambil Toruan, langsung Hutasoit-soit melihat Butet yang seksi dan gayanya yang Hotma itu. Tapi Butet tidak peduli, dia jalan Sitorus memasuki rumah makan tanpa menanggapi, meskipun sebagai perempuan yang ramah tapi ia tak gampang Hutagaol dengan Sembiring orang.

Naibaho ikan gurame yang dibakar Sitanggang dengan Batubara membuatnya semakin berselera. Apalagi diberi sambal terasi dan Nababan yang hijau segar. Setelah mengisi perut, Butet melanjutkan perjalanan. Ternyata jalan ke sana berbukit-bukit. Kadang Nainggolan, kadang Manurung. Di tepi jalan dilihatnya banyak Pohan. Kebanyakan Pohan Tanjung. Beberapa diantaranya ada yang Simatupang diterjang badai semalam.

Begitu sampai di atas gunung, Butet berujar "Wow, Siregar sekali hawanya" katanya, berbeda dengan kampungnya yang Panggabean. Hembusan Perangin-angin pun sepoi-sepoi menyejukkan, sambil diiringi Riama musik dari mulutnya. Sejauh Simarmata memandang warna hijau semuanya. Tidak ada tanah yang Girsang, semuanya Singarimbun.

Tampak di seberang, lautan dan ikan Lumban-lumban. Terbawa suasana,mulanya Butet ingin berenang. Tetapi yang ditemukannya hanyalah bekas kolam Siringo-ringo yang akan di-Hutauruk dengan Tambunan tanah. Akhirnya, dia memutuskan untuk berjalan-jalan di pinggir hutan saja,yang suasananya asri, meskipun nggak ada Tiurma melambai kayak di pantai.

Sedang asik-asiknya menikmati keindahan alam, tiba-tiba dia dikejutkan oleh seekor ular yang sangat besar. "Sinaga!" teriaknya ketakutan sambil lari Sitanggang-langgang. Celakanya, dia malah terpeleset dari Tobing sehingga bibirnya Sihombing. Karuan Butet menangis Marpaung-paung lantaran kesakitan. Tetapi dia lantas ingat, bahwa sebagai pendekar pantang untuk menangis. Dia harus Togar. Maka, dengan menguat-nguatkan diri, dia pergi ke tabib setempat untuk melakukan pengobatan.

Tabib tergopoh-gopoh Simangunsong di pintu untuk menolongnya. Tabib bilang, bibirnya harus di-Panjaitan. "Hmm, biayanya Pangaribuan" kata sang tabib setelah memeriksa sejenak.

"Itu terlalu mahal. Bagaimana kalau Napitupulu saja?" tawar si Butet.
"Napitupulu terlalu murah. Pandapotan saya kan kecil".
"Jangan begitulah. Masa' tidak Siahaan melihat bibir saya Sihombing begini? Apa saya mesti Sihotang, bayar belakangan? Nggak mau kan ?"
"Baiklah, tapi pakai jarum yang Sitompul saja" sahut sang mantri agak kesal.
"Cepatlah! Aku sudah hampir Munthe. Saragih sedikit tidak apa-apalah".

Malamnya, ketika sedang asik-asiknya berlatih sambil makan kue Lubis kegemarannya, sayup-sayup dia mendengar lolongan Rajagukguk. Dia Bonar-bonar ketakutan. Apalagi ketika mendengar suara di semak-semak dan tiba-tiba berbunyi "Poltak!" keras sekali.

"Ada Situmorang?" tanya Butet sambil memegang tongkat seperti stik Gultom erat-erat untuk menghadapi Sagala kemungkinan.

Terdengar suara pelan, "Situmeang". "Sialan, cuma kucing..." desahnya lega. Padahal dia sudah sempat berpikir yang Silaen-laen. Selesai berlatih, Butet-pun istirahat. Terkenang dia akan kisah orang tentang Hutabarat di bawah Tobing pada jaman dulu dimana ada Simamora, gajah Purba yang berbulu lebat. Keesokan harinya, Butet kembali ke Pandapotan silatnya. Di depan ruang ujian dia membaca tulisan: "Harahap tenang! Ada ujian.

"Wah telat, emang udah jam Silaban sih". Maka Siboru-boru dia masuk ke ruangan sambil menyanyi-nyanyi. Di-Tigor-lah dia sama gurunya "Butet, kau jangan ribut!, bikin kacau konsentrasi temanmu!"

Butet, dengan tanpa Malau-malau langsung Sijabat tangan gurunya, "Nggak Pakpahan guru, sekali-sekali...!".

Akhirnya, luluslah Butet dan menjadi orang yang disegani karena mengikuti wejangan guru Pandapotan silatnya untuk selalu, "Simanjuntak gentar, Sinambela yang Bonar!"

tag; marga-marga suku batak, asal usul marga suku batak, pasaribu, siagian, marpaung, hutabarat, situmeang, lumban tobing, hutapea, sihotang

19 December 2018

Gondang Mula-Mula Pada Upacara Adat Batak Toba



Gondang Mula-Mula



Gondang Mula-Mula adalah sebuah repertoar yang disajikan pada upacara adat Batak Toba, salah satunya adalah upacara pernikahan.

Gondang Mula-Mula memiliki peranan yang penting di setiap upacara adat. Kemajuan jaman dan masuknya budaya baru pada masyarakat Batak Toba menimbulkan pergeseran makna sosial dan perubahan dalam bentuk musik.

Penyajian Gondang Mula-Mula jaman dahulu berfungsi sebagai perantara manusia dengan Tuhan. Pada masa kini penyajian Gondang Mula-Mula berfungsi sebagai pendahuluan di upacara adat.

Penyajian Gondang Mula-Mula tradisional diiringi oleh ansambel gondang sabangunan. Pengaruh perubahan sosial pada masyarakat Batak Toba menyebabkan ansambel gondang sabangunan sudah jarang dipakai di upacara pernikahan.

Penyajian Gondang Mula-Mula pada upacara pernikahan biasanya diiringi oleh instrumen modern dan beberapa instrumen dari gondang sabangunan. Penyajian Gondang Mula-Mula yang diiringi oleh ansambel gondang sabangunan yang lengkap sudah sangat jarang ditemukan.

Kehadiran instrumen modern pada penyajian Gondang Mula-Mula masa kini menyebabkan perubahan bentuk musik. Bentuk musik Gondang Mula-Mula pada masa kini telah menyesuaikan dengan instrumen pengiring yang dipakai.

Download;


08 November 2018

Jenis Ulos Yang Diberikan Pada Acara Pernikahan Adat Batak Toba

bonapasogithutaki


Ulos Pada Acara Pernikahan Batak Toba



Kain ulos memiliki beberapa jenis sesuai maknanya masing-masing. Kapan diberikan, kepada siapa diberikan dan dalam upacara apa diberikan menjadi hal yang penting dipertimbangkan dalam menggunakan kain ulos. Pada acara pernikahan ada 2 jenis kain ulos yang digunakan, yaitu ulos ragidup dan ragi hotang. Kedua ulos digunakan sebagai lambang restu dan harapan dari para keluarga.

Proses pemberiannya juga dibagi menjadi beberapa tahapan. Pada tahap yang pertama dikenal dengan istilah ulos namarhodoan, Ulos diberikan dari pihak perempuan kepada pihak laki-laki. Sedangkan tahap kedua yang dikenal dengan istilah ulos holong diberikan oleh kedua keluarga kepada kedua pengantin.

Berikut  pemberian ulos pada acara pernikahan adat batak toba:

Ulos pansamot: diberikan oleh orang tua pengantin perempuan kepada orang tua pengantin laki-laki.

Ulos pamarai: diberikan oleh kakak atau adik laki-laki dari ayah pengantin perempuan kepada kakak atau adik laki-laki dari ayah pengantin laki-laki.

Ulos sihunti ampang: diberikan oleh saudara perempuan yang sudah menikah/ tante dari pengantin perempuan kepada saudara perempuan yang sudah menikah/ tante dari pengantin laki-laki.

Ulos simolohan: diberikan oleh saudara laki-laki yang sudah menikah/ om dari pengantin perempuan kepada saudara laki-laki yang sudah menikah/ om dari pengantin laki-laki.

Ulos tu ompungna: diberikan oleh salah seorang keturunan ayah/ ompung bersaudara dari ayah pengantin perempuan kepada salah seorang keturunan ayah/ ompung bersaudara dari ayah pengantin laki-laki.

Ulos todoan: diberikan oleh salah seorang keturunan ompung/ ompung bersaudara dari ayah pengantin perempuan kepada salah seorang keturunan ompung/ ompung bersaudara dari ayah pengantin laki-laki.

Ulos parorot: diberikan oleh salah satu tante dari pengantin/ ayah pengantin perempuan kepada salah satu tante dari pengantin/ ayah pengantin laki-laki

Ulos hela: diberikan oleh orang tua pengantin perempuan kepada kedua pengantin